Penjelasan Ringkas tentang Salafi, Manhaj Salaf dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Penjelaskan Ringkas tentang Salafi, Manhaj Salaf dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

✅ Manhaj artinya menurut bahasa adalah metode, jalan, tata cara.

? Adapun arti Salaf menurut bahasa adalah yang telah berlalu dan telah mendahului. Sedangkan menurut istilah yang dimaksud dengan Salaf adalah generasi pertama umat Islam yaitu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiyallahu’anhum.

✅ Maka yang dimaksud dengan manhaj Salaf adalah metode Salaf dalam beragama.

? Pengikutnya di sebut Salafi, yaitu orang yang meneladani metode Salaf dalam beragama.

✅ Merekalah yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena selalu mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan bersatu di atas kebenaran serta tidak memberontak kepada Pemerintah Muslim.

➡ Selain Salafi atau Ahlus Sunnah wal Jama’ah maka disebut ahlul bid’ah wal furqoh, yaitu orang yang berbuat bid’ah dan berpecah dalam agama karena menyimpang dari jalan beragamanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiyallahu’anhum atau memberontak terhadap Pemerintah Muslim.

? Salafi, Ahlus Sunnah wal Jama’ah, pengikut sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan sahabat, merekalah golongan yang selamat.

✅ Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى

? “Dan akan berpecah umatku menjadi 73 kelompok, semuanya di neraka kecuali satu, yaitu yang mengikuti aku dan para sahabatku.” [HR. At-Tirmidzi dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu’anhuma, Shohihul Jami: 9474]

➡ Diantara ciri khusus manhaj Salaf; Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang membedakan dengan kelompok-kelompok lain adalah:

1) Memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat, bukan pemahaman pribadi atau kelompok dan organisasi tertentu.

2) Mendahulukan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah daripada akal, perasaan, mimpi, wangsit atau pendapat siapa pun.

3) Senantiasa menegakkan tauhid dan sunnah, menjauhi syirik dan bid’ah. Senantiasa berusaha untuk taat kepada Allah ta’ala dan tidak meremehkan dosa sekecil apa pun.

4) Menjaga ukhuwah dan persatuan di atas kebenaran, bukan di atas kesesatan. Dan saling menasihati dan mengingatkan bahaya kesesatan.

5) Memuliakan ulama dan taat kepada pemerintah muslim dalam perkara yang tidak bertentangan dengan hukum Allah, dan tidak memberontak kepada pemimpin muslim yang adil maupun zalim, tetapi menasihati secara sembunyi-sembunyi, tidak mengghibah dan menyebarkan aib-aib pemerintah muslim.

? Semoga Allah ta’ala memberikan taufiq kepada kita semuanya untuk dapat meneladani metode Salaf dalam beragama hingga meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

sumber : http://sofyanruray.info/penjelaskan-ringkas-tentang-salafi-manhaj-salaf-dan-ahlus-sunnah-wal-jamaah/

Iklan
Featured post

“Kerusuhan 4 November 2016” Realita Memalukan buat Wahdah Islamiyah, dkk yang Membenarkan Demonstrasi

oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-

Wahdah Islamiyah melalui juru bicaranya, Ust. Yusran Anshar dengan “gagah berani” membolehkan dan memerintahkan pengikut dan masyarakat Islam untuk melakukan aksi demonstrasi 4 November 2016.

Pernyataan ini amat menyalahi fatwa para ulama yang ternama semisal Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Al-Albaniy, Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin, Syaikh Abdul Aziz Alusy Syaikh, Syaikh Muqbil, Syaikh Bakr Abu Zaid, Syaikh Al-Fauzan, Syaikh Abdul Muhsin dan semua ulama besar Saudi Arabia. (Sebagian fatwa mereka, silakan baca di : https://goo.gl/Uir434)

Ketika mereka (Wahdah Islamiyah, cs.) menyalahi fatwa ulama mu’tabar dan ternama yang telah melalui proses panjang dalam mencari ilmu dan menyebarkannya di tengah umat, maka tidak ada yang mereka (WI) petik melainkan BUAH PAHIT dari fatwa pembolehan demonstrasi yang disuarakan oleh Ust. Yusran sebagai pembicara resmi Wahdah Islamiyah.

Sebuah perkara yang perlu diingat oleh Ust. Yusran, kedamaian yang anda impikan dalam aksi demo hanyalah KAMUFLASE dan ILUSI yang telah menipu anda untuk menuruti hawa nafsu. Continue reading ““Kerusuhan 4 November 2016” Realita Memalukan buat Wahdah Islamiyah, dkk yang Membenarkan Demonstrasi”

Featured post

Ternyata Istri Saya Sudah Tidak Perawan, Apa yang Harus Saya Lakukan.??

Fatwa Al-‘Allamah Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah:

س : إذا تزوج بنتا وبعد الدخول عليها لم يجدها بكرا فماذا يفعل ؟

ج : هذا له أسباب ، قد تكون البكارة ذهبت بأسباب غير الزنا ، فيجب حسن الظن إذا كان ظاهرها الخير ، وظاهرها الاستقامة ، فيجب حسن الظن في ذلك ، أو كانت قد فعلت الفاحشة ثم تابت ، وندمت وظهر منها الخير ما يضره ذلك ، وقد تكون البكارة زالت من شدة الحيض ، فإن الحيضة الشديدة تزيل البكارة ، ذكره العلماء وكانت تزول البكارة ببعض الوثبات ، إذا وثبت من مكان إلى مكان ، أو نزلت من محل مرتفع إلى محل سافل بقوة قد تزول البكارة ، فليس من لازم البكارة أن يكون زوالها بالزنا ، لا ، فإذا ادعت أنها زالت البكارة في أمر غير الفاحشة ، فلا حرج عليه ، أو بالفاحشة ولكنها ذكرت له أنها مغصوبة ومكرهة ، فإن هذا لا يضره أيضا ، إذا كانت قد مضى عليها حيضة بعد الحادث ، أو ذكرت أنها تابت وندمت ، وأن هذا فعلته في حال سفهها وجهلها ثم تابت وندمت ، فإنه لا يضره ، ولا ينبغي أن يشيع ذلك ، بل ينبغي أن يستر عليها ، فإن غلب على ظنه صدقها واستقامتها ، أبقاها وإلا طلقها مع الستر وعدم إظهار ما يسبب الفتنة والشر . 

Tanya: Jika seseorang menikahi wanita yang ternyata setelah melewati malam pertama baru ia ketahui bahwa istrinya tersebut sudah tidak perawan lagi, apa yang harus ia lakukan? Continue reading “Ternyata Istri Saya Sudah Tidak Perawan, Apa yang Harus Saya Lakukan.??”

Featured post

Ustadz Sunnah, Kajian Sunnah

 USTADZ SUNNAH, KAJIAN SUNNAH

Segala puji hanya bagi Allah ta’ala, dengan pertolongan-Nya, kemudian perjuangan, ilmu dan hikmah para da’i dan ikhwan sunnah dengan berbagai sarana dakwah, maka kajian-kajian sunnah pun semakin marak dan tersebar, di masjid-masjid, kantor-kantor, dari desa hingga perkotaan.

Bersamaan dengan itu pula, kajian-kajian yang tidak berlandaskan sunnah dengan sendirinya berangsur meredup, melemah, tersingkir bahkan tak sedikit yang akhirnya ‘punah’,

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“Dan katakanlah: Telah datang yang benar dan telah lenyap yang batil, sungguh yang batil itu pasti lenyap.” [Al-Isra’: 81] Continue reading “Ustadz Sunnah, Kajian Sunnah”

5 Kesalahan yang Sering Ditemukan Dalam Shalat Tarawih

Ada lima kesalahan yang sering kita temukan ketika shalat tarawih

1- Dzikir berjama’ah di antara sela-sela shalat tarawih dan ba’da witir. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah berkata, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dzikir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11:190)
2- Melafazhkan niat selepas shalat tarawih. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Raudhah Ath-Thalibin, 1:268).
Continue reading “5 Kesalahan yang Sering Ditemukan Dalam Shalat Tarawih”

Mengkhususkan Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan

Tidaklah tepat ada yang meyakini bahwa menjelang bulan Ramadhan adalah waktu utama untuk menziarahi kubur orang tua atau kerabat (yang dikenal dengan “nyadran”).
Kita boleh setiap saat melakukan ziarah kubur agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الآخِرَةَ
“Lakukanlah ziarah kubur karena hal itu lebih mengingatkan kalian pada akhirat (kematian).” (HR. Muslim no. 976, Ibnu Majah no. 1569, dan Ahmad 1: 145).
Namun masalahnya adalah jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa menjelang Ramadhan adalah waktu utama untuk nyadran atau nyekar. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.
Continue reading “Mengkhususkan Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan”

Tujuh Belas Pertahanan Diri dari Gangguan Setan

Perlindungan diri dari gangguan setan:

Seorang hamba selayaknya membentengi diri dari gangguan setan dengan pertahanan yang telah dijelaskan dalam Al-Quran dan hadits–hadits shahih berupa doa dan zikir. Karena Al Quran dan Al-Hadits adalah penawar, rahmat, petunjuk serta perlindungan dari kejahatan di dunia dan akhirat dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Continue reading “Tujuh Belas Pertahanan Diri dari Gangguan Setan”

Adakah Doa Khusus di Awal Bulan Ramadhan?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tanya: Adakah doa khusus di awal bulan Ramadhan?

Jawab: Tidak ada, namun terdapat doa umum dalam sebuah hadits yang dishahihkan sebagian ulama, dan berlaku bagi setiap bulan, yaitu:

اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِاليُمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ رَبّي وَرَبُّكَ اللَّهُ

“Allaahumma ahlilhu ‘alayna bil yumni wal iimaan was salaamah wal islaam. Robbi wa Robbukallaah”

“Ya Allah jadikanlah penglihatan kami terhadap bulan ini senantiasa bersama keberkahan, keimanan, keselamatan, dan keislaman. Robbku dan Robbmu adalah Allah.” [HR. At-Tirmidzi dari Thalhah bin ‘Ubaidillah radhiyallahu’anhu, Shahih At-Tirmidzi: 2745]

Doa ini disebutkan dalam beberapa lafaz dan riwayat, satu dengan yang lainnya saling menguatkan, diantaranya adalah yang kami sebutkan di atas.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Sumber : http://sofyanruray.info

Meluruskan Pemikiran Dai STIBA-Wahdah Islamiyah yang Membolehkan Demonstrasi Silmiyyah ‘Damai’

Demonstrasi bukan Perkara Duniawi Semata

(Bantahan bagi Dai STIBA-Wahdah Islamiyah yang Membolehkan Demonstrasi Silmiyyah ‘Damai’)

==============================================
oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-
==============================================

Seorang ikhwah bertanya kepada kami via What’sApp tentang pernyataan yang terkirim kepadanya melalui media sosial tersebut. Pernyataan itu ditulis oleh seorang dai STIBA yang beralamat :

Masjid Anas bin Malik, STIBA Makassar.

Makassar , 1 Nov 2016.

By. Abu Najla Al-Bughisy Al-Ambony.

Di dalam selebaran itu, dai tersebut membuat pernyataan,

“Demo hanya persoalan sarana, duniawi, bukan ibadah mahdhah, hukum asalnya boleh.

Pernyataan ini perlu kita koreksi dalam beberapa poin berikut :

Pertama, pokok dari syubhat ini bahwa hukum asal demo adalah mubah (boleh)!

Untuk menyanggah hal ini, kami nukilkan sanggahannya dari Guru kami yang mulia, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badrhafizhahullah– saat beliau membantah seorang dai yang membolehkan muzhoharot silmiyyah(Demonstrasi Damai),

تقدم أن الأصل فيها استيرادها من الغرب وأنها لا تخلو من مفاسد وأضرار أقلها التضييق على الناس في طرقاتهم وأن كبار العلماء في هذه البلاد وكذا الشيخ محمد بن ناصر الدين الألباني قالوا بتحريمها لما يترتب عليها من أضرار

“Telah berlalu (keterangannya) bahwa asalnya demonstrasi diadopsi dari barat (baca : kaum kafir, pent.) dan bahwa demo damai tidak akan lepas dari berbagai kerusakan dan madhorot. Minimalnya, membuat kemacetan bagi manusia di jalan-jalan mereka, dan bahwa para ulama besar di negeri ini, demikian pula Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy menyatakan pengharaman demo damai, karena sesuatu lahir darinya berupa madhorot-madhorot.” [Lihat Tanbihat ala Maqol Haula Ibahah Al-Muzhoharot As-Silmiyyah (3/4-4/4)][1]

Kedua, Demo bukanlah sarana yang mubah dalam inkarul munkar (mengingkari kemungkaran). Kemudian perlu diketahui bahwa tidak semua sarana hukum asalnya mubah (boleh), bahkan terkadang ada sarana yang haram atau bid’ah. Apalagi dalam urusan dakwah dan amar ma’ruf dan nahi munkar.

Continue reading “Meluruskan Pemikiran Dai STIBA-Wahdah Islamiyah yang Membolehkan Demonstrasi Silmiyyah ‘Damai’”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑