Mengirim Fatihah Untuk Mayit (Orang Meninggal) Menurut Imam Syafi’i

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 Pertanyaan: Saya mau tanya, kalo mau kirim Al-Fatihah, kalau kita tidak tau bin-nya, yang lebih afdol pake Pulan/Adam? Terima kasih.

Jawaban: Mengirim Al-Fatihah kepada orang yang sudah meninggal dunia termasuk bid’ah atau mengada-ada dalam agama, karena tidak ada dalil dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang menunjukkannya. Dan Al-Imam Asy-Syafi’irahimahullah termasuk yang berpendapat bahwa pahalanya tidak akan sampai kepada mayit, berdasarkan firman Allah ta’ala,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” [An-Najm: 39]

Ulama besar Mazhab Syafi’i, Al-Imam Ibnu Katsir Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

ومن وهذه الآية الكريمة استنبط الشافعي، رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم؛ ولهذا لم يندب إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ولا حثهم عليه، ولا أرشدهم إليه بنص ولا إيماء، ولم ينقل ذلك عن أحد من الصحابة، رضي الله عنهم، ولو كان خيرا لسبقونا إليه، وباب القربات يقتصر فيه على النصوص، ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والآراء، فأما الدعاء والصدقة فذاك مجمع على وصولهما، ومنصوص من الشارع عليهما

“Dari ayat yang mulia ini, Imam Syafi’i rahimahullah dan pengikutnya beristimbath bahwa bacaan (Al-Qur’an) tidak sampai kepada orang-orang mati, karena bacaan tersebut bukan amalan mereka, bukan pula usaha mereka. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak mensunnahkannya bagi umatnya, tidak mendorong mereka untuk melakukannya, tidak pula membimbing mereka dengan sebuahnash, tidak pula dengan isyarat. Dan juga, tidak dinukil hal itu dari seorang sahabat radhiyallahu’anhum, andaikan itu baik, tentunya sahabat telah mendahului kita melakukannya. Dan masalah al-qurubaat (ibadah-ibadah khusus untuk taqarrub kepada Allah Ta’ala) harus berdasarkan nash-nash, tidak boleh berdasarkan kias-kias dan akal-akal. Adapun doa dan sedekah telah disepakati (ulama) atas sampainya kedua amalan tersebut (kepada orang mati), dan kedua amalan itu terdapat nashnya dari pembuat syari’ah.” [Tafsir Ibnu Katsir, 7/465]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Sumber Artikel : http://sofyanruray.info/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s