Hadits Dho’if tentang Memotong Kuku

oleh :

Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.

-hafizhahullah-

Seorang ikhwah memosting sebuah gambar pesan berisi hadits yang menganjurkan untuk memotong kuku.
[ http://bit.ly/2mqbxct ]

Kemudian kami telusuri di dunia maya, ternyata hadits lemah ini banyak disebarkan oleh para peruqyah dalam situs-situs mereka. [ https://goo.gl/vDcnLx ]

Bunyi haditsnya begini :

“Potonglah (perpendek) kuku-kukumu. Sesungguhnya setan mengikat (melalui) kuku-kuku yang panjang.” [HR. Ahmad]

Dari potingan itu, kami penasaran karenanya. Sebab, baru kali ini mata kami melihat hadits itu.

Setelah kami cari dalam kitab-kitab hadits, dan secara khusus Musnad Ahmad, kitab yang dijadikan rujukan oleh si pembuat gambar pesan.

Wah, ternyata hasilnya nihil! Kami tak mendapati lafazh tersebut dalam Al-Musnad, karya Imam Ahmad, dan tidak pula dalam kitab-kitab hadits yang mu’tabar.

Terjemahan hadits tersebut, kayaknya keliru. Hadits itu kami temukan dengan lafazh berikut :

قَلٍّمْ أَظْفَارَكَ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَقْعُدُ عَلَى مَا طَالَ مِنْهَا

“Potonglah kuku-kukumu, karena setan duduk di atas sesuatu yang panjang dari kuku-kuku itu.”

Hadits ini tidak diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad dan tidak pula ahli hadits lainnya.

Kami hanya menemukannya dalam kitab Al-Firdaus, karya Abu Syuja’ Ad-Dailamiy (3/205), dari Ali bin Abi Tholib -radhiyallahu anhu-, tanpa sanad.

Hadits ini juga dicantumkan oleh Al-Ghozaliy dalam Ihya’ Ulumiddin (1/141), cet. Darul Ma’rifah, juga tanpa sanad.

Tajuddin As-Subkiy –rahimahullah– berkata,

وهذا فصل جمعت فيه جميع ما في كتاب الإحياء من الأحاديث التي لم أجد لها إسنادا من كتاب العلم

“Ini adalah pasal yang aku kumpulkan di dalamnya semua hadits-hadits yang terdapat dalam Kitab Al-Ihya’ berupa hadits-hadits yang tidak aku temukan sanadnya dalam kitab-kitab ilmu…(kemudian beliau sebutkan hadits di atas dari riwayat Abu Hurairah -radhiyallahu anhu-).” [Lihat Thobaqot Asy-Syafi’iyyah Al-Kubro (6/287 & 293)]

Kesimpulannya, hadits di atas adalah hadits dho’if (lemah), bahkan boleh jadi palsu, karena tidak memiliki sanad.

Adapun memotong kuku, maka memang disyariatkan dalam agama yang suci ini.

Dari sahabat Anas bin Malik -radhiyallahu anhu- berkata,

وَقَّتَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَلْقَ الْعَانَةِ وَتَقْلِيمَ الأَظْفَارِ وَقَصَّ الشَّارِبِ وَنَتْفَ الإِبْطِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا مَرَّةً

“Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah menetapkan waktu bagi kami dalam mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, dan menggunting kumi, satu kali dalam 40 hari.” [HR. Abu Dawud (no. 4200), At-Tirmidziy (no. 2759), An-Nasa’iy (no. 14), dan Ibnu Majah (no. 295). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Adab Az-Zifaf (hlm. 134)]

Jumhur ulama memandang makruhnya memanjangkan kuku. Jika melebihi 40 hari, maka boleh jadi haram!

Untuk lebih memperluas pembahasan hadits ini, silakan buka kita Adh-Dho’ifah (no. 1705) karya Syaikh  Al-Albaniy –rahimahullah-.

Sumber : https://abufaizah75.blogspot.co.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s